Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Pekanbaru - Hanya dalam hitungan lima tahun terakhir, sudah 60 naskah Melayu kuno Indonesia berpindah tangan ke Malaysia. Padahal naskah Melayu itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Negara tetangga itu masih akan terus memburu dokumen cagar budaya Indonesia.
Budayawan Riau, Al Azhar mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (2/06/2009), soal perburuan cagar budaya Melayu yang dilakukan warga Malaysia di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
"Seperti yang kita ketahui, lagu rasa sayange, reok, batik, kini dipatenkan menjadi karya anak bangsa Malaysia. Nah sebentar lagi, naskah Melayu kuno yang mereka beli dari Kepri, juga akan menjadi hak paten milik mereka. Lantas bangsa kita ini akan tetap menjadi penonton pada hasil karyanya sendiri yang sudah dimiliki bangsa lain," kata Bang Al, sapaan akrab dosen Universitas Islam Riau itu.
Naskah yang kini sudah berpindah tangan itu, antara lain, sejumlah syair, hikayat, catatan harian, Al Quran kuno yang semuanya bertuliskan tangan pada abad 19 lalu. Para pemburu naskah Melayu ini dilakukan warga Malaysia baik dari mahasiswa maupun para akedemisi. Mereka membeli dari masyarakat di Pulau Lingga, Bintan, dan Pulau Penyengat di Kepri.
"Kita khawatir setelah naskah Melayu di Kepri habis mereka beli, nantinya akan merembet ke Riau daratan, ke Sumetara Utara, Sumsel dan semenanjung pantai timur Sumatera. Ini persoalan serius yang harus diperhatikan pemerintah kita,” kata Bang Al.
Kini 60 naskah Melayu itu dengan mudah dijumpai di Pustaka Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Malaka serta museum pemerintah Malaysia. Naskah bertuliskan melayu arab itu, bakal menjadi dokomen sejarah soal akar sastra Melayu di dunia.
"Saya sudah pernah melihat langsung naskah melayu kuno itu di sana. Sebab, dalam setiap lembaran akhir dalam naskah akan tetap tertuliskan identitas penyair dan lokasinya," kata Bang Al.
Naskah Melayu kuno itu akan menjadi barang berharga yang memiliki nilai sejarah tinggi. Naskah itu nantinya akan menjadi bahan penelitian dari seluruh akademisi dan budayawan dari belahan dunia. Maka, dengan adanya perburuan naskah kono Melayu itu, nantinya Malaysia akan menjadi pusat penelitian sastra Melayu satu-satunya di dunia.
"Malaysia, begitu ngotot dengan naskah melayu kuno itu karena mereka akan memperkuat identitas melayunya. Seperti slogan mereka Trully Asia, Malaysia bener-bener ingin mewujudkan negeri tersebut sebagai pusat melayu di dunia," kata Al Azhar.
(cha/djo)
sumber: www.detiknews.com




