MAN Yogyakarta III

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Kajian SEMANGAT BELAJAR ANDREA HIRATA

SEMANGAT BELAJAR ANDREA HIRATA

E-mail Cetak
Membaca Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, kita akan terharu. Remaja miskin asal Belitong bernama Andrea (Ikal) berani bercita-cita sekolah ke luar negeri. Bagaimana dengan kita?

Andrea miskin harta, tetapi ia tidak miskin semangat. Inilah hal langka yang saat ini, jarang iliki remaja. Mungkin karena sebagian besar remaja yang tidak bersemangat sekolah ini adalah anak orang kaya. Kalau kamu masuk golongan mana?

Identifikasi kita masuk golongan mana penting dilakukan agar kita segera sadar posisi kita saat ini--sudah kelas XII madrasah aliyah, April 2008 UAN sudah menunggu diselesaikan. Anda bisa bayangkan pada Andrea SMA dulu, dini hari, sekitar pukul 02.00 sudah harus ke pelabuhan menjadi kuli ngambat (kuli angkut ikan), kira-kira pukul segitu Anda sedang apa? Masih asyik berselimut?

Jika kemudian, Anda beralasan zaman Andrea tidak ada SKL (standar kompetensi lulusan), tidak ada batas nilai minimun 4,00 dan rata-rata 5,25, tidak ada Matematika IPS yang disosialisasikan tiba-tiba, bagus juga argumen Anda. Akan tetapi, Andrea bukan remaja bodoh. Masih ingat cerita Pak Mustar yang ngamuk gara-gara anaknya tidak diterima di sekolah Andrea hanya karena kurang 0,25, pada hal Pak Mustar, wakil kepala sekolah dan pendiri sekolah tersebut. Artinya sekolah Andrea itu menjunjung moral dan kualitas akademisi para muridnya.

Ya. Zaman Andrea memang tidak aada SKL dan tetek bengek aturan kelulusan, tetapi bukankah Andrea tetap belajar, tetap semangat sekolah, dan lulus ujian dengan nilai gemilang. Zaman boleh berbeda, tetapi semangat bersekolah tidak boleh kalah. Di tengah kemudahan, Anda masih malas belajar dan sekolah, apa kata dunia!