MAN Yogyakarta III

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Karya dan Prestasi Siswa AGAR ANAK MUDA PEDULI BUMI TERCINTA

AGAR ANAK MUDA PEDULI BUMI TERCINTA

E-mail Cetak PDF

Oleh:
Danang Tri Prastiyo dan Kunthi Wikresna Jati (XA)

[Juara 2 Lomba Menulis Esai dan Debat HIMABA Fakultas Kehutanan UGM, 2 Mei 2010] 

Fakta: Bumi Semakin Renta
Pernahkah kita membayangkan hidup di bumi tanpa pencemaran? Manusia dan bumi bersahabat, bahkan menjalin hubungan simbiosis mutualisme. Damai kan? Sayang, kedamaian tersebut fatamorgana saat ini. Faktanya, bumi kian hari kian rapuh, sementara manusia kian hari kian serakah.

Fakta ini mesti disindir dengan hakikat keberadaan manusia di bumi. Manusia ditugaskan untuk memakmurkan bumi, begitu titah Tuhan. Artinya, bumi dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bukan dieksploitasi semena-mena. Di propinsi DIY terjadi beberapa pencemaran yang berkontribusi pada kerusakan bumi. Data kasus pencemaran di DIY yang terjadi dari 2004 sampai 2008 yaitu pencemaran udara 14 kasus, pencemaran tanah  13 kasus, dan pencemaran air 9 kasus.
Secara spesifik pencemaran udara sebagai akibat negatif aktivitas industri juga berdampak cukup luas. Dari total 148 desa di DIY semuanya pernah mengalami pencemaran udara akibat aktifitas industri.  Jika paparan di atas secara spesifik kedaerahan, berikut adalah kondisi bumi secara keseluruhan.
1.    Pemanasan global tak bisa dielakkan. Iklim di bumi menjadi tidak menentu. Badai yang menghancurkan, gelombang air pasang, tsunami dan kelaparan akibat kekeringan akan terus berlanjut meskipun usaha-usaha untuk mengendalikan polusi dan kerusakan lingkungan telah dilakukan.  Bumi berusaha untuk terus eksis dengan melakukan perbaikan alami, tetapi kita manusia akan menerima akibatnya dikarenakan proses perbaikan itu sangat dahsyat dan tidak terkendali.
2.    Hutan hujan tersisa 6%, padahal sebelumnya 14% dari permukaan bumi. Menurut perkiraan para ahli, hutan hujan yang tersisa itu akan habis dikonsumsi kurang dari 40 tahun.  1 sampai 1,5 hektar hutan hujan lenyap setiap 1 detik sebagai konsekuensi tragis pembangunan di negara-negara industri dan berkembang.
3.    Aktivitas manusia berpengaruh buruk terhadap sistem global. Perang, sebagai contoh, dapat menghancurkan bumi; pembunuhan massal, berkembangnya kelaparan dan penyakit, pembakaran bahan bakar fosil secara besar-besaran oleh mesin-mesin perang, termasuk juga pembabatan hutan dan pengambilan batu-batuan dan tanah untuk perbaikan kembali infrastruktur yang rusak.
Melihat semua realitas di atas, masihkah kita akan berdiam diri? Untuk mengurangi kerusakan bumi, kita tidak bisa bergerak sendiri, semua kalangan harus saling berkontribusi dalam membuat tatanan bumi kembali ideal. Tidak hanya tugas salah satu pihak, bahkan dalam hal ini peran generasi muda sangatlah dibutuhkan.

Kenapa Generasi Muda?
1.    Sebagai Agen Perubahan
Generasi muda memiliki idealisme yang sangat tinggi. Energi positif ini diharapkan mampu memakmurkan bumi. Jika untuk meraih kemerdekaan Indonesia, para pemuda mempunyai andil besar, harusnya dalam hal mengelola bumi. Bukankah mengelola bumi adalah realisasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945?
2.    Keberanian Mengambil Keputusan
Generasi muda cenderung sangat berani dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, gunakan keberanian ini untuk merawat bumi. Anak muda langsung terjun sebagai pemain, bukan sekadar penonton. Pengalaman sering membuktikan, hanya para penonton yang selalu tak puas dengan para pemain, wasit, dan orang-orang terkait, sementara pemain sendiri umumnya tak sempat berbuat demikian, karena sibuk. Dengan demikian, sikap saling menyalahkan dan mengambinghitamkan seseorang, pada gilirannya akan menciptakan kerusakan akhlak dan lingkungan dalam bentuk tersendiri.

Bagaimana Seharusnya?

Generasi muda banyak memiliki potensi untuk menyayangi bumi. Akankan potensi ini dibiarkan (mangkrak)? Sayang kan?
Mulailah dari hal yang sederhana! Di sekolah kami hampir semua siswa berangkat dengan sepeda motor, bisa dihitung dengan mudah berapa yang naik sepeda. Mereka menganggap hal ini sebagai hal biasa, padahal secara tidak sadar mereka telah menyumbangkan polutan pemcemar udara. Ironisnya lagi pada saat kami melakukan survei pengetahuan tentang hari bumi, dari 32 siswa yang dijadikan sampel hampir tidak tahu kapan Hari Bumi itu diperingati. Jika valentine day, tak ada satu pun yang mau ketinggalan. Hem hem, sunguh potret ironi yang memilukan!
Semua sikap yang muncul dari generasi muda di atas adalah benih dari sifat hidup hedonisme yang menjadi life style generasi muda. Sikap hidup yang hanya mengejar kenikmatan dunia, tanpa berpikir panjang dampak dan kerugiannya.  Atas kondisi tersebut, kami menuliskan pesan-pesan bagi generasi muda.
1.    Gunakan Pemikiran Panjang. Pernahkah Anda berpikir bahwa segala sesuatu diciptakan untuk manusia saja? Ketika seseorang yang beriman kepada Tuhan mengamati segala sesuatu beserta sistem yang ada  hidup ataupun tak hidup yang ada di jagad raya dengan menggunakan mata yang penuh perhatian, ia melihat bahwa segalanya telah diciptakan untuk manusia. Ia mengetahui bahwa tak satupun yang muncul dan menjadi ada di dunia secara kebetulan. Namun, diciptakan Tuhan dalam keadaan yang sangat sesuai untuk kehidupan manusia. Manusia dapat bernapas tanpa susah payah di setiap saat. Udara yang ia hirup tidak membakar saluran hidungnya, tidak membuatnya mabuk ataupun sakit kepala. Komposisi unsur-unsur ataupun senyawa-senyawa gas dalam udara telah ditetapkan dalam jumlah yang paling sesuai untuk manusia.
    Generasi muda yang memikirkan contoh di atas akan hal berpikir kelanjutannya: seandainya kadar oksigen dalam atmosfer sedikit lebih atau kurang dari yang ada sekarang, dalam dua keadaan tersebut kehidupan akan hancur. Ia lalu ingat betapa susahnya bernapas ketika berada dalam tempat yang tidak mengandung udara. Ingat, keseimbangan yang begitu sempurna di bumi sudah pasti bukanlah sebuah kebetulan. Setelah menyaksikan dan memikirkan fenomena tersebut, akan tampak bahwa segala sesuatu diciptakan dengan sebuah tujuan oleh Pencipta yang Maha Tinggi dan Pemilik Kekuatan yang Abadi.
2.    Peran Aktif. Sekecil apapun itu pasti bermanfaat. Prinsip ini harus tertanam kuat pada diri generasi muda. Apapun perbuatan kita jika itu bersifat positif pasti mendatangkan manfaat bagi bumi tercinta. Buanglah sampah dengan tertib, tanamlah pohon di rumah, Berhemat airlah, Matikan alat elektronik yang tidak diperlukan! Jika selama ini masih beranggapan bahwa tidak boleh boros karena yang membayar orang tua, ubahlah: Jika lebih hemat uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal lain.
 
Jika hutan terakhir telah ditebang
 Jika air terakhir telah terminum
Jika udara terakhir telah terhirup
Jika tanah terakhir telah tandus
Manusia akan sadar bahwa uang tidak bisa mereka manfaatkan


Daftar Pustaka

Anonim. Hari Bumi. Kompas 23 April 2010, kolom Yogyakarta.

Yahya, Harun. Tidak ada tahun. Kebesaran Allah pada Planet Bumi. Artikel.

Anwariansyah. 2009. ”20 Fakta Mengerikan tentang Masa Depan Kita dan Bumi”. (www.wikimu.com, diakses pada Rabu-04-21-2010)

LAST_UPDATED2