MAN Yogyakarta III

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Karya dan Prestasi Siswa CODE TAK PERNAH BERUBAH

CODE TAK PERNAH BERUBAH

E-mail Cetak PDF
    Akhirnya sampai juga aku di Jogja, setelah hampir 20 tahun kutinggalkan. Kota dimana aku melewatkan masa-masa kecilku dengan penuh warna bersama sanak saudara dan kawan-kawanku. Tawa, canda, tangis, bahagia, ceria, dan semuanya. Jogja, kota yang penuh kenangan. Ah, betapa rindunya aku dengan kampungku.
    Bergegas aku turun dari kereta ini. Hampir 7 jam aku berdiri di kereta. Jarak Jogja-Banten memang tidak dekat. Ini membuatku penat tak keruan. Huh, memang seperti biasanya, kereta api itu agak menyusahkan. Mau naik susahnya minta ampun, mau turun juga hampir tak ada bedanya. Tapi, harga tiket yang sangat terjangkau membuatku cenderung untuk memilih kereta api daripada bus. Memang tidak begitu nyaman, tapi maklum, seperti kata orang Jawa, ono rego ono rupo, artinya kurang lebih ada harga ada fasilitas.
    Bluk.
   
Akhirnya kujejakkan juga kakiku di kampung halamanku tercinta ini. Semakin ramai saja stasiun Lempuyangan, tentunya sudah banyak yang berubah setelah kutinggalkan selama bertahun-tahun.
    "Mau kemana mas, ojek saja mas, murah kok!"
    "Becak mas!"
    "Taksi mas!"
    Rayuan para penguasa jalan ini sebenarnya agak memikatku untuk memilih salah satu di antara mereka. Aku ingin segera mengistirahatkan badan ini. Namun, entah kenapa ada semacam dorongan dari dalam diriku untuk menolak mereka. Lalu dengan halus kutolak mereka. Aku teringat masa kecilku, saat itu aku dan ibu pulang dari pasar Bringharjo naik andong. Masih melekat di $benakku saat itu adalah pertama kalinya aku naik andong. Aku senang sekali. Di atas andong aku duduk di samping kusirnya sambil bernyanyi lagu naik dokar, syair ayah kuganti dengaan ibu dan syair ke kota kuganti dengan ke pasar. Para penumpang tertawa melihatku. Aku tambah keras bernyanyi. Pikirku, mereka merasa terhibur dengan laguku. Kulihat, ibu tersenyum padaku. Senyum yang sarat kasih sayang. Senyum yang hingga saat ini masih melekat dalam benakku. Ya tuhan, aku sangat merindukan senyum itu.
    Teringat semua itu, aku jadi ingin naik andong. Kutengok sekeliling, tak jua ku lihat sebuah andong. Akhirnya, kuputaskan untuk berjalan kaki. Ya, berjalan menyusuri kota Jogja yang telah lama kutinggal. Aku sedikit bernostalgia dan menikmati pemandanganya. Semoga aku masih ingat jalanya.
    Mulai kususuri jalanan Jogja, aku mulai berjalan keluar dari stasium Lempuyangan, kubuang pandanganku ke kanan. Yah, aku ingat, memang untuk sampai ke rumahku aku harus ke kanan. Hmmm, sudah banyak yang berubah di kota ini. Sejenak aku menghirup udara Jogja untuk memastikan bahwa aku sudah pulang. Lalu aku kembali berjalan.
    Belum ada 20 langkah mataku mengernyit. Entah kenapa ada yang sedikit merampas perhatianku. Ada tukang becak sadang tidur di atas becaknya. Memang bukan hal yang aneh. Tapi, yang menyita perhatianku adalah kenapa itu hampir terlihat seperti rumahnya. Dan dengan nyamannya tukang becak tersebut tidur di sana. Sedikit kulihat ada pakaian ganti menyelinap di bawahnya. Botol air mineral yang isinya tinggal separuh juga tergeletak di sandaran becak. Apa dia tunawisma? Atau himpitan ekonomi yang memaksanya seperti ini? Memaksanya untuk bekerja siang malam hanya untuk membuat dapur rumahnya mengepul. Sekedar untuk menyekolahkan anak – anaknya. Pulang, hanya untuk menyetorkan uang pada istrinya. Lalu, berangkat kerja lagi. Ah, sungguh malang nasibnya. Miris hatiku melihatnya. Aku hanya bisa mendoakannya saja.
    Lalu, kuteruskan berjalan. Hmmm, hawa udara pagi memang yang paling nikmat. Untung tadi aku memilih berjalan. Ada satu hal yang terbersit dalam pikiranku. Walau udara pagi sebegini segarnya, hidungku tetap harus kututup sesekali untuk menghindari terhirupnya karbon monoksida yang keluar dari asap – asap kendaraan bermotor ke dalam paru-paruku. Ya, entah mengapa banyak sekali kendaraan lalu lalang disini. Memang sekarang jam 07.00. Jam sibuk. Banyak orang berangkat kerja. Anak-anak sekolah juga berangkat sekolah. Tapi, aku tidak pernah menyangka akan semacet ini. Apa itu yang dinamakan perkembangan kota besar. Sebenarnya aku sudah diberi tahu temanku kalau Jogja sekarang seperti ini. Katanya dia pernah terjebak kemancetan lampu merah di perempatan sampai tiga putaran saat ia berangkat kuliah. Tapi, tetap saja melihat sendiri lebih mencengangkan.
    Ah, kuteruskan saja perjalananku ini. Belum lama aku berjalan. Lagi – lagi aku sedikit teganggu dengan sampah yang menumpuk, belum lagi sampah –  sampah yang berceceran di jalanan. Pertanda kalau mereka tidak ditempatkan pada tempatnya oleh sang pemilik sebelumnya. Sedikit mengganggu pemandangan sih. Untung saja aku masih tertolong dengan banyaknya pohon-pohon rindang yang menaungi jalanan. Membuatku tidak harus mengeluh dengan teriknya matahari. Walau begitu tetap saja sedikit menggangu pemandangan. Mungkin mereka belum merasakan akibat membuang sampah sembarangan. Apa mereka tidak ingat oleh banyaknya bencana alam yang melanda negeri ini. Tidak lain dan tidak bukan bencana tersebut terjadi akibat ulah mereka sendiri, yang tidak mau memelihara kelestarian alam yang ada di sekitarnya.
    Kembali, ku teringat syair lagu penyanyi lendaris yakni  Ebiet G. AD yang berbunyi; "Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga atas dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba bertanya pada rumput yang bergoyang. "  
    "Mas, minta sedekah Mas!"
    "Mas, belum makan dari kemarin Mas!"
    Aduh, sekarang aku diserbu serombomgan anak kecil yang mengemis kepadaku. Ada sekitar lima anak yang menodongkan tanganya kepadaku. Wajah-wajah yang memelas membuatku tak tega untuk mengacuhkan mereka. Tapi, jika aku memberi mereka uang. Aku tidak tahu apakah uang itu akan menjadi berguna untuk mereka atau tidak? Jangan-jangan nanti malah dirampas preman jalanan.
    "Maaf Dik, Mas nggak punya uang kecil. Tapi, bagaimana kalau adik-adik Mas ajak makan di sana."
    Aku menunjuk sebuah warung makan kecil di ujung jalan. Warung itu biasa disebut dengan angkringan. Aku kembali teringat masa kecilku. Di mana dulu aku dan kawan-kawan sering sekali makan di angkringan bersama-sama.
"Mau Mas,” Kompak mereka menjawab bersama.
    Yah, inilah solusi yang kutemukan, daripada dikasih uang, mending diberi barang yang bermanfaat.Dalam kasusku sekarang, makanan. Lalu kuajak mereka makan bersama di angkringan. Mareka terlihat senang sekali. Senyum di wajah mereka rasanya cukup untuk membayar uang yang kuhabiskan untuk makanan mereka. Kutaksir kalau mereka bersekolah sekarang duduk di bangku sekolah dasar, kira-kira kelas 5. dan tanpa perlu bertanya lagi, aku sudah tahu pasti mereka tidak mengenyam bangku pendidikan. Biaya sekolah yang selangit mungkin membuat orang tua mereka berpikir ribuan kali untuk menyekolahkan anak mereka. Jangankan sekolah. Untuk membuat dapur mengepul setiap hari saja sudah mati-matian. Itupun kalau mereka punya orang tua.
    "Terimakasih Mas,"
    Rupanya mereka sudah selesai.
    "Ah, tidak apa – apa. Mas, senang bisa makan sama kalian."
    Hanya kata-kata itu yang akhirnya kuberikan untuk mereka. Lalu kubayar makanan mereka. Dan mereka pun undur diri setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali. Fuuh, aku menghela nafas. Memikirkan mereka hatiku terkoyak-koyak. Ah, lebih baik kulanjutkan saja perjalananku.
    Setelah agak lama berjalan. Aku sampai di jembatan besar. Kulihat ke bawah. Sungai Code tidak berubah. Hanya lebih coklat dan kumuh saja. Kulihat di pesisir sungai banyak rumah-rumah berjejer. Rumah-rumah yang sangat sederhana dan terkesan kumuh. Sangat tidak memenuhi syarat rumah sehat. Tapi, aku tahu mereka terpaksa membuat rumah di sana. Lagi-lagi biaya menjadi sandungan terbesar. Dan rumah-rumah tersebut seperti berjajaran di pinggir sungai. Kubuang pandanganku ke atas. Melihat gedung-gedung tinggi menjulang. Betapa besar perbedaanya. Seakan-akan menegaskan perbedaan kaya-miskin di antara mereka. Ah, seperti itulah Indonesia sekarang.
    Aku jadi ingin cepat – cepat sampai ke rumah. Ingin secepatnya melepas lelah. Dan terlepas dari beban pikiran ini. Tapi, walau semua berubah. Aku tahu ada beberapa hal yang tidak bisa berubah. Salah satunya adalah senyumnya. Yang selalu kurindukan.
Kuyakin tidak akan berubah.
    Akhirnya sampai juga aku. Tinggal beberapa langkah saja aku sampai di rumah. Rumahku tercinta yang telah bertahun-tahun tak kusentuh. Dan benarkan, senyumnya tak pernah berubah. Sekarang kulihat ia berdiri di depan rumah. Sambil tersenyum padaku.
 
Cerpen ditulis Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Tahoma","sans-serif";} Saidah Fidaroini
LAST_UPDATED2