Majalah Siswa & Warga MAN Yogyakarta III  
  Edisi 12 | Mei 2003      home | daftar isi | terkini | arsip  
         
   

Beri Aku Arti (PADI)

By: Ruce-Lee

Kata orang diputusin itu 'gak enak rasanya, pengin mati saja. Aku dulu tak percaya omongan itu, aku berpikir “kan cuma putus, kok pengen mati”. Tapi setelah aku merasakannya, ternyata emang bener, diputusin rasanya pengin mati. Diputusin juga merupakan salah satu penyebab orang nge-DRUGS. Seperti yang kualami dulu kala, Walaupun sekarang aku udah jauh lebih baik, Tapi kenangan pahit itu masih tertancap dalam benakku.

Waktu itu aku masih SMU, baru juga dapet semester 2, aku udah punya banyak kenalan cewek. Setiap hari aku bingung mau datang ke rumah siapa. Mungkin orang menganggap aku play boy. Tapi, yah beginilah aku. Hingga suatu hari aku kenal sama cewek yang spesia...lll banget. Hatiku langsung terjerat tambang cintanya. Kulakuin apapun buat ngedapet perhatian and infomasi tentang dia.

Akhirnya aku bisa juga jadian dengannya. Ia sangat berbeda dengan cewek-cewek yang selama ini kukenal. Orangnya muslimah buanget sehingga aku merasa penasaran. Selama ini aku pacaran selalu melampaui batas yang dianjurkan norma agama. Tapi dengan Aning, aku paling-paling cuma bercakap-cakap. Tak boncengin pun Alliya tak mau, terpaksa deh aku naik angkot biar bisa bareng dia terus.

Tak terasa 6 bulan telah berlalu. Ujian semester udah dekat, entah karena apa akhir-akhir ini aku jarang berjumpa dengan Aning. Mungkinkah dia menghindar dariku ?, atau karena sedang ujian semester, jadi dia belajar terus. Aku Calling, Aning tak pernah jawab. Hingga suatu hari aku datang ke rumahnya. Ternyata dia udah pindah.

Aning meninggalkan surat untukku yang dititipkan lewat bibinya.

“Agung lebih baik kita putus saja, kamu nggak usah cari aku lagi. Aku rasa aku nggak cocok buatmu!”.

Begitu singkat memang pesannya, tapi sangat menyakitkan hatiku. Semua harapanku sirna sudah, namun aku tak menyerah begitu saja. Aku terus mencari tahu keberadaannya, tapi hasilnya selalu minus, hingga akhirnya aku frustasi. Entah setan apa yang merasukiku saat itu sampai-sampai aku lupa pada Alloh SWT, Astaghfirulloh al'adzim…

Setiap malam aku menjadi langganan sebuah club malam, pulang dalam keadaan mabuk sudah biasa bagiku. Sekolahku hancur, temen-temen pada menjauhiku seolah-olah aku ini binatang yang menjijikkan. Aku merahasiakan hal ini dari orangtuaku. Hidupku terasa hampa, hari-hari yang kulalui selalu berbau asap ganja.Tak lagi kurasakan nafas alam. Memang luka bisa hilang dengan benda itu, namun hanya sekejap, tak selamanya. Malah masalah bertambah runyam.

Hingga suatu hari aku kehabisan barang itu. Aku tersiksa banget. Saat itu sahabatku Galih Arya mendatangiku, aku mengerang-erang, meminta tolong bahkan aku sempat berlutut dihadapannya supaya aku dibelikan. Namun yang terjadi Galih dan teman-temanku justru mengikatku erat-erat di sebuah kursi. Aku mengamuk sampai kelelahan dan tertidur. Ketika aku sadarkan diri kurasakan air dingin mengguyur mukaku. Seluruh tubuhku basah kuyup

“Agung, sadar, istighfar!!…. ”kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telingaku.

Lama aku termenung, apa yang selama ini kulakukan? Setelah aku membaca istighfar Lilik langsung melepas tali pengikatku. Aku memeluk Galih Arya dan teman-teman. Aku menangis sepuasku. ”Agung kusarankan sekarang kita sholat dulu, ini hampir Ashar. Aku mengangguk. Aku langsung mandi, wudhu and sholat, sehabis sholat aku berdzikir lalu baca Al-quran. Yah meskipun udah lama nggak baca, tapi aku dulu pernah khatam Alquran, sehingga masih kuingat huruf-huruf hijaiyah yang pernah kupelajari.

“Agung, lebih baik kau pulang ke rumah orang tuamu di Bandung. Lagi pula kau sudah dikeluarkan dari sekolah karena kasus Narkoba. Dan kami rasa ini adalah jalan yang terbaik”, saran Galih padaku.

Akhirnya aku pulang ke Bandung, kemudian aku ceritakan semuanya pada bapak dan ibu. Tanpa basa-basi ortuku langsung mengirimku ke sebuah pondok pesantren pusat rehabilitasi.

Di sana aku dapat menemukan arti hidup yang sebenarnya. Aku sadar hari-hari yang kulalui sebelumnya tiada berarti. Alhamdulillah, ya Alloh… terima kasih, kau telah menyadarkanku. Aku sekarang tak lagi nge-DRUGS, aku membantu orang tuaku di sawah dan membantu adik-adik kecil di desaku belajar mengaji. Paling tidak aku bisa terhindar dari jurang kemaksiatan.

Inilah karmaku berkali-kali aku mutusin cewek dan nggak pernah mikirin akibatnya. Sekali diputusin aku udah kaya gitu, padahal cara mutusinnya nggak secara langsung pakai surat lagi. Terus gimana nasib cewek-cewek yang gue putusin? Mudah-mudahan nggak separah gue.