![]() |
Majalah Siswa & Warga MAN Yogyakarta III | |||||||
| Edisi 12 | Mei 2003 | home | daftar isi | terkini | arsip | |||||||
|
Tolong Aku Disandera (Antara Tanah Abang dan Rangkas Bitung 2) By : Efendi Setelah kejadian itu Falia nge-kost di Jogja, sekolahnya juga otomatis pindah karena dia sering kena terror. Di SMU nya yang baru Falia banyak yang naksir (ehm..nggak GR Lho!), termasuk sang ketua Osis. Namun kali ini masalah besar datang,Falia akan menjadi Bandar Narkoba. Ih… kok bisa ya? “Tin…tin…” sebuah klakson berbunyi. Falia menoleh, dan disambut senyuman manis seorang cowok. “Pulang nggak Fal, tak anter sekalian,” Shakti teman sekelasnya menawarkan jasa. “Aduh.. jangan sekarang dong, aku dipanggil ketua Osis nih!” “Ya, ada janjian ya sama mas Galih, heran deh gue mau-maunya lo saingan ama kakak kelas. Dia kan udah punya Mbak Nurul”. Falia hanya tersenyum, gossip tentang dirinya sudah menjadi rahasia umum. “ Lo kenapa sih, orang cuma mau ngobrol sebentar kok, cemburu ya.. aku ama mas Galih tuh 'gak ada hubungan apa-apa kok, Cuma, sebatas teman aja” kataku bercanda. ”Fal, kamu dicari seseorang!” Iin wakil ketua Osis memberi tahu. “Siapa ?” Falia penasaran. “Nggak tahu tuh, orangnya mencurigakan,” kata Iin sambil berlalu. Falia kemudian menghampiri orang yang dimaksud Iin. “Maaf, apakah kamu yang namanya Falia ?” “Ada keperluan apa ya?” Falia belum sempat minta tolong, orang yang mengajaknya bicara sudah membius dan mendorongnya masuk ke mobil. **** Waktu kubuka mata, aku merasa masih pusing. Selain itu seluruh tubuhku terasa kaku dan ngilu.Setelah kesadaranku pulih aku baru tahu kaki dan tanganku terikat tali yang sangat kuat, sehingga terasa percuma saja jika aku meronta-ronta untuk melepaskan diri. “Sore.. sudah bangun ya?,” Aku terkejut dan menoleh mencari asal suara itu “Astaghfirullohal adzim… laki-laki itu..,” desisku pelan. Aku mulai mengingat-ingat apa yang terjadi padaku tadi…Aku pulang sekolah jam satu siang, sewaktu di depan sekolah, sebuah kijang berhenti tepat di depanku. Dua orang laki-laki turun dan langsung menyeretku masuk ke mobil. Aku dibius sehingga tak tahu apa yang terjadi setelah itu.. “Kok bengong…? Lupa ya sama aku? Laki-laki itu kemudian melepas ikatan tali di tangan dan kakiku. “Ouw…!”Keram sekali rasanya. “Kenapa aku kau culik, apa yang kau inginkan? Tanyaku ketus. Aku heran bukankah laki-laki ini gila? “Lia, aku butuh bantuanmu sekarang. Makanya kau ada di sini”. “Hey, aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak ingin berurusan denganmu!” Laki-laki itu tertawa dengan sintingnya “Jangan pura-pura. Kau dulu menyelamatkan aku sewaktu di stasiun Tanah Abang, yah..kau bersama kakakmu itu. “O.. jadi kau si gila itu,” kataku pura-pura bodoh.” Aku sudah menyelamatkanmu jadi sekarang lepaskan aku!”. “Tidak sekarang. Don.! Ambilkan dia makan dan minum..!” Laki-laki itu menyuruh seorang pria yang hampir sebaya dengan masku, dengan segera diberikannya gelas padaku. “Terima kasih…” ucapku lirih. Aku melirik si Gila. Oh.. ternyata dia masih memperhatikanku, “Apa liat-liat!” kataku sewot karena kesal dengan tatapan matanya. Aku minum tersedak, “Kau mirip sekali dengan Imas adikku, manis, cantik, Cuma sayangnya kau galak sekali, ha…ha…”. Aku menatap laki-laki gila itu dengan heran, huh kenapa dulu aku dan mas Eko mau menolongnya saat dia dihajar preman di stasiun Tanah Abang. Malamnya aku mendengar diskusi, bahwa aku akan dijadikan Bandar narkoba di sekolah. Aku setengah tak percaya mendengarnya. Tapi paginya setelah aku diberi sarapan, tasku dimasuki sebuah kantong plastik. Aku mulai khawatir, jangan-jangan itu narkoba. “Tugasmu hari ini adalah membagi-bagikan isi tas ini kepada teman-temanmu secara gratis, ingat! jangan sampai ketahuan. Dan awas kalau kau coba-coba melarikan diri, kami tidak segan-segan membunuhmu. Kami tahu kau sendirian di kota pelajar ini. Dan kau harus tahu bahwa ada teman yang bertugas mengawasimu jika kau macam-macam.” Selesai bicara, tiba-tiba dari balik pintu muncul seorang laki-laki memakai seragam SMU. “Mas Galih……” teriakku histeris begitu tahu siapa orangnya. “Astaghfirullohal adzim… jadi selama ini mas Galih jadi pengedar Narkoba, Dasar munafik, kau bermuka dua. Di sekolah kau kelihatan alim, ternyata dibalik itu kau menyimpan kejahatan. Munafik……!!!” teriakku keras, hatiku terasa pedih. Selama ini orang yang aku kenal baik, sopan, anggun dan cerdas dimata bapak ibu guru ternyata tidak lebih dari buronan polisi. Dan aku juga menyesal kenapa aku menaruh hati padanya. Aku dan mas Galih sampai di sekolah. Banyak temanku yang menggodaku karena ketahuan berboncengan. Ketika menyusuri koridor yang masih sepi, aku sempat protes pada mas Galih. “Bagaimana jika nanti ada operasi di sekolah?” “Santai saja, aku ketua Osis di sini. Jadi noproblem dan ingat jangaan sampai ketahuan. Mengerti!! ” Aku hampir menangis saat mas Galih pergi. Aku tidak ingin ketahuan dan aku juga tidak ingin namaku tercemar. Aku tidak sadar kalau temanku Adi mengawasiku, dan memberikan selembar tissue padaku. “Kok pagi-pagi udah nangis !” Aku tersentak kaget dan secara reflek mengusap air mataku. “Egh… Adi.. nggak papa kok. Cuma ..Engh.. anu..” belum selesai aku bicara Adi sudah memotong kata-kataku. “Lia.. Lia.. kenapa sih kamu nggak jujur sama aku. Aku sudah tahu semuanya kok”. Kata Adi datar. Aku mengerutkan kening, “Maksud kamu apa?” tanyaku heran. Adi kemudian menyeretku ke kamar mandi. Di sana Rusli temanku sudah menunggu. Lalu aku diseret masuk ke toilet. “Adi, Rusli kalian apa-apaan sih..?” tanyaku sebal dengan kelakuan mereka “Falia, kami sudah tahu apa yang terjadi denganmu, kami tahu kau dalam bahaya. makanya kuajak kau ke sini,” Adi menjelaskan. Tak terasa air mataku menitik, Ya Alloh… tolonglah aku. “Lia kali ini kami bersedia membantumu kalau kau mau bercerita tentang masalahmu,” Rusli membuka suara. “Fal, kami tahu kemarin kau diculik, kami sempat membuntutimu, tapi kami gagal masuk karena tempatnya dijaga ketat. Kami takut ikut tertangkap jadi kami memutuskan untuk pulang saja. Ayolah Fal, ceritakan apa masalahmu !” karena terus didesak akhirnya aku ceritakan semuanya pada mereka berdua. “Jadi Ketua Osis ikut terlibat? Innalillah… mau jadi apa sekolah kita nanti” Tepat pada saat itu Pak Rudi, guru matematika di kelasku masuk. Beliau sempat terkejut melihat kami bertiga di dalam toilet. “Hey… sedang apa kalian di sini, ini kan sudah masuk. Falia ini kan toilet putra kenapa ada di sini?…… Nampaknya kalian perlu dicurigai, ayo sekarang ikut Bapak ke ruang BP”. Aku sempat protes, tapi Adi mengisyaratkan supaya aku menurut. Di ruang BP kami bertiga disidang habis-habisan. Adi lebih parah lagi, karena jabatannya sebagai ketua kelas. Aku makin merasa bersalah atas semua ini. Selesai pak Han bicara, Adi menjelaskan semuanya termasuk masalahku saat ini, dan pak Parno yang kebetulan ada di situ ikut nimbrung.” Coba Rusli kau hubungi ayahmu untuk mengatasi masalah ini”. Sesaat Rusli tampak ragu, tapi kemudian di keluarkan juga Hp-nya. “Eh... tunggu, biar dari sekolahan saja yang menghubungi” kata pak Aris. Aku ternganga ternyata ayahnya Rusli adalah seorang kepala polisi. Tidak berapa lama kemudian sebuah mobil polisi diparkir di halaman depan. Setelah banyak berbasa basi akhirnya kami dibawa ke kantor polisi. Mas Galih juga ikut bersama kami, wajahnya tampak pucat dan kemerah-merahan. Pagi itu juga rumah tempat aku disandera dikepung polisi. Aku jadi alat pemancing, terus terang aku sempat deg-degan. Dan yang paling membuat aku histeris adalah adanya dua mas Galih kembar, aku merasa tak percaya. Tapi setelah diinterogasi polisi ternyata mas Galih punya saudara kembar, namanya Gilang. Dan mas Galih selama dua hari disekap di rumah ini juga. Setelah kejadian itu, aku, mas Galih, Rusli dan Adi persis selebritis, jadi bahan pembicaraan orang. Pernah juga kami diliput di TV (jadi GR…nih). Dua hari kemudian mas Eko menjengukku, dia begitu khawatir terhadapku. “Kamu ini dari dulu ada aja, problemanya, tahun kemarin hampir saja berkelahi dengan para preman sekarang apalagi. Ibu jadi cemas di Jakarta.” “Tapi aku kan selalu bisa mengatasinya Mas”. Sejak saat itu aku rajin berdoa dan aktif ikut latihan karate. Ternyata ikut karate nggak rugi lho teman-teman.
|