Majalah Siswa & Warga MAN Yogyakarta III  
  Edisi 12 | Mei 2003      home | daftar isi | terkini | arsip  
         
   

Shefira… Oh… Shefira…

By : She-Fiya

Hari ini aku batuk-batuk lagi. Tapi kali ini batukku disertai cairan berwarna merah kental. Ya Alloh…darah…

“Ada apa Fir, ” tanya Yani sahabatku.

“Oh nggak kok, Cuma batuk,” kataku berbohong. Tapi sorot mata Yani menunjukkan rasa tidak percaya. “Ayo, Yan. Masa kamu mau di toilet terus”.

Sore ini aku cek-up ke Dokter, ternyata kankerku makin parah dan dokter bilang umurku tinggal menghitung hari. Ya Alloh tabahkan aku.

“Shef, malam Minggu kita nge-Band yuk. Honornya lumayan lho”, Kata Dewa saat istirahat. “Sorry, deh. Gue nggak janji.” Tepat pada saat itu Atika dan Yani masuk. “Hei… kalian kok masih di kelas sih, Ika ama Adi jadian lho.”

“Yang bener aja, yuk Shef kita ke kantin”. Kami buru-buru meninggalkan kelas. Sampai di kantin kami langsung pesan bakso dan sebotol Fanta.

“Horeee…selamat ya…”kami saling bersulang untuk perayaan Ika dan Adi.

Seminggu setelah hari itu Adam, cowok yang jadi perhatianku, meminjam buku diktat kimiaku. Semula aku hampir pingsan karena grogi, tapi esoknya setelah bukuku dikembalikan di halaman belakang dia menulis sesuatu…oh…

My..God..! ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata mimpi dan hayalku bersatu. Aku langsung cerita pada Dian yang langsung histeris dan mengucapkan selamat padaku.“ Tapi Dian Adam kan tidak tahu kalau aku punya penyakit”? kataku lemas. “Udahlah Shef.. kau jalani aja semua ini, kamu kan juga naksir doi. Masa kesempatan udah di depan mata kamu sia-siakan sih”, kata Dian menasehatiku.

“Shef.. entar malam kamu mau tampil kan di Java kafe? tanya Adam. Aku mengangguk. Malamnya aku sangat senang dan hal itu kunyanyikan dalam banyak lagu. Dewani, Ulul Khadri, Adi dan teman-teman yang lain heran ketika aku bersemangat.” Kemesraan ini janganlah cepat berlalu… kemesraan ini biar kukenang selalu…” “Cinta jangan kau pergi.. tinggalkan diriku sendiri. “Tuhan anugerahi sebuah cinta kepada manusia untuk dapat saling menyayangi... Seusai tampil mereka memberi tepuk tangan meriah dan menyindirku. “Ih… sombong nih jadian nggak bilang-bilang”. “Sorry deh rencananya sih kita mo' bikin surprise kekalian tapi keburu ketahuan,? kataku mengelak. “Ya udah deh malam ini kita yang traktir..” Kata Adam mengalah. “Asyik…!!!”

Di Java Café malam itu ramai, mas Aryo (produser Band kami) tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya ketika melihat kami sekelas berpesta.

Hari Senin habis istirahat aku merasa sangat pusing, tubuhku menggigil kedinginan tapi suhu badanku terlalu tinggi panasnya, akhirnya aku ketiduran saat pelajaran bahasa Perancis. “SHEFIRA..!! BANGUN..!! INI KELAS BUKAN HOTEL”. Suara Madame Michelle yang menggelegar mengagetkan aku dari tidurku. Aku yang kaget langsung batuk dan kali ini juga disertai darah. Teman-temanku juga ikut melonjak kaget, tak percaya kalau guru yang satu ini bisa berbahasa Indonesia dengan kasar. "Heh sana cuci muka dulu biar wajahmu nggak kusut kayak benang gitu”! Perintah madame tanpa mnghiraukan keadaanku.Dian ikut menemaniku, sepertinya Dian merasa cemas dengan keadaanku saat ini. “ Shef, lo nggak pa-pa kan, gurunya memang menyebalkan tau lo sakit masih disemprot juga”.

Aku makin merasa pusing, jalanku mulai sempoyongan. Aku seperti mau jatuh, nafasku terasa sesak. “shef… kamu kenapa? Tolong..tolong..!” Dian berusaha mencari bantuan, aku sadar mungkin saat inilah aku harus pergi jauh.. tapi aku nggak ikhlas kalo harus pergi sekarang. Aku nggak rela. Aku merasakan sesuatu keluar dari hidungku..darah lagi..? Aku mulai kesulitan bernafas.. Tepat pada saat itu sobat-sobatku datang. Dewa langsung menyangga tubuhku yang hampir jatuh. Semua teman sekelasku mendengung dalam ketakutan.

“Shef.. kamu jangan gitu, Shef.. jangan tinggalin aku.” Kudengar suara Adam hampir menangis. “Cepat bawa dia kerumah sakit!” kata guruku. Aku diangkat rame-rame oleh temanku. Didalam mobil aku masih bisa merasakan air mata sobat-sobatku. Hh.. Dian kenapa kamu mesti cerita ke mereka kalau aku sakit.. Aku sudah tidak kuat lagi. Kakiku sudah mulai dingin dan kaku lalu terus naik ke atas, sampai akhirnya..selesai aku menggumamkan sahadat. “FIRA..” semua yang ada di mobil histeris. Aku tau aku udah mati. Aku merasa tubuhku melayang ringan sekali.

Aku udah mati, tapi aku masih berada di bumi. Buktinya aku bisa melihat apa-apa yang dilakukan teman-temanku. Mereka membuatku terharu. Malamnya rumahku dipenuhi orang-orang yang bertahlil. Kulihat ibu tiriku menangis tersedu-sedu. Ternyata dia bukan ibu tiri yang jahat. aku bosan di sini lalu aku berjalan. Menyusuri jalan Seturan lalu sampai di Sagan kulihat seorang cowok manis sedang duduk menyendiri. “Hallo. Kok sendirian sih ”Sapaku. Sicowok hanya menoleh sebentar lalu kembali lagi merenung. “Boleh aku temani, kebetulan aku juga lagi BeTe' nih”.

“Terserah kalo kamu suka”. Aku kemudian duduk disampingnya. “Namaku Shefira aku baru saja jadi hantu, Kalo kamu?”

“Syahil Rizki Tamara. Aku juga baru dua bulan me ninggal. Aku terkena anak panah nyasar saat ada tawuran disekolah, aku belum mau mati. Sekarang ini aku jadi arwah penasaran,” Kata Syahil datar. “Pantes dada kamu bolong. Eh,jangan-jangan kamu anak SMU 9 yang dibunuh itu ya,?”

“He-eh, gue bukannya dendam sih ama anak yang memanah dada gue, tapi kenapa dia nggak dihukum penjara ya sama polisi? Gue heran kenapa saat ini semuanya bisa ditukar dengan uang”.

“Sabar, deh Hil, Hukum Akhirat kan nggak bisa dibeli dengan apapun. Kamu harus percaya hal itu”. Kataku menasehati. Sepanjang malam itu kami terus mengobrol hingga pagi. Kami sangat akrab sekali, seperti sudah lama saling mengenal. Saat matahari mulai naikan dikit, aku mengajak Syahil ke sekolahanku. Aku mengajaknya berkeliling. “Hm.. sekolahmu lumayan juga ya, kalo dari luar sih keliatannya biasa-biasa aja. Eh ternyata didalamnya luar biasa” ucap Syahil kagum. “Eh, Syahil, ke kelasku yuk”. Sementara itu dikelas pelajaran Ekonomi, sebagian siswa banyak yang judes ngitung duit, tapi nggak ada duitnya. “Di.. Dian.. itu Dian kan ?” kata Syahil sambil menunjuk sobatku Dian. “Lho kenal Dian sobat gue, dari mana kalian kenal?” tanyaku penasaran.

“Waktu itu kita ketemu di Mirota Kampus. Dian orang yang menyenangkan. Enak kalo diajak ngomong”. Kata Syahil sambil terus memperhatikan Dian.

“Lo naksir dia ya, nggak pa-pa kok dia sobat akrab gue. Kalo yang di belakangnya Yani itu cowok gue. Kami baru sehari jadian, tapi nasib gue udah naas begini,” kataku lirih. Syahil hanya memandangku sepertinya ia bisa merasakan isi hatiku. Aku hampir menangis ketika, Miko temen sekelas yang agak tulalit, mendadak berteriak “Hantu…Bu, itu She.. Shefira Bu..”

Kami terlonjak kaget, begitu juga teman-teman sekelas. Semua memandang Miko dengan heran. Syahil buru-buru menarik tanganku, dan menyeretku keluar kelas. Kami berlari menjauhi kelasku, “Shef, kayaknya ada yang bisa ngeliat kita deh”. kata Syahil sambil mengatur nafasnya (padahal hantu kan gak bisa bernafas ya). Aku hanya diam, bagaimana jika Adam bisa melihatku Adam pasti bakal pingsan. Sementara itu dikelas Miko menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya. “Huh.., dasar pembohong, mana ada hantu keliaran siang-siang begini,” kata Deni.

“Lo, jangan mengada-ada deh Mik, kasihan kan Fira.”

Bu Arini sedang berusaha menenangkan suasana “Sudah.. sudah jangan ribut mungkin tadi Miko hanya berhalusinasi”. “ Tapi Bu, saya tadi benar-benar melihatnya” kata Miko jengkel. Suasana kembali tenang, murid-murid sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Seusai pelajaran ekonomi, kelas ribut lagi. Hampir sebagian anak membicarakan masalah Miko, “ Dian lo percaya 'gak ama yang diomongin Miko? tanya Yani penasaran. “Kayaknya gue percaya deh. Soalnya waktu pelajaran ekonomi tadi gue juga nyium bau wangi, kaya bunga melati atau apaan gitu”.

“Ih.. kok jadi gini sih serem deh”. Tepat pada saat itu guru matematika masuk. (BERSAMBUNG)