(oleh2 silaturrahim tim mayoga ke Pantura)
Ketulusan dan komitmen mendorong Pak Ari untuk mencurahkan segenap kemampuannya untuk mewarnai dunia pendidikan dengan caranya yang khas. Guru SMPN 4 Pemalang ini mendukung siswa yang ingin maju dan melanjutkan pendidikan. Diangkat menjadi anak asuh, dipamitkan pada orang tuanya, dan diantarkan hingga ke sekolah yang ditujunya.
“Pak Ari tak terlalu kaya, rumahnya sederhana, motornya GL lama, tapi Pak Ari sangat peduli. Bukan hanya uang pendidikan yang diberikan pada siswa-siswanya, juga seragam, dan perhatian. Beliau akan mengantar dan memasrahkan siswa kepada sekolah yang ditujunya, ” ujar Bu Dewi, panggilan Sri Dewi H., S.Pd., ketika bercerita kepada mayoga.net.
Bu Dewi, merupakan salah satu tim Mayoga yang bersilaturahmi ke sekolah-sekolah di Pantura akhir Maret lalu. Selain Bu Dewi dan Bu Ami, trainer dan motivator Mayoga—Wahyudin Al Aziz, S.Pd. dan Supardi, S.Pd. ke Pantura dalam rangka memenuhi undangan memberikan motivasi bagi siswa SMP dan MTs di Pemalang yang telah bekerja sama dengan Mayoga bertahun-tahun.
Pak Ari bukanlah Ari Ginanjar (motivator) atau Ari Tulang (koreografer), tapi ketiga Ari ini memiliki persamaan berupa kepedulian terhadap masyarakat dengan cara masing-masing. Jika Ari Ginanjar dengan konsep ESQ-nya atau Ari Tulang dengan keahlian menarinya, Pak Ari yang tinggal di bersama istri tercinta, Bu Nana—mencurahkan perhatian bagi siswa berprestasi yang kurang mampu.
Selain itu, Pak Ari juga sangat memuliakan tamu. Salah satu bentuknya dengan menanyakan tim Mayoga sudah sampai Pemalang atau belum. “Setelah dari MTsN Pemalang kami akan mampir ke rumah Pak Ari, eh, waktunya ndak cukup, Bu Nana yang diberi tahu tim Mayoga ndak mampir langsung menelepon bahwa tamu dari Jogja sangat diharapkan bisa mampir,” kenang Bu Dewi.
“Pak Ari pokoknya peduli banget dengan orang tak mampu, dibelikan seragamnya. Anak asuh, dipamitkan, dan dipilihkan sekolah yang bagus,” imbuh beliau.
Setiap tahun ajaran baru Pak Ari ke MAN Yogyakarta III dan memasrahkan putra-putrinya terbaiknya dari Pemalang. Perhatian tulus Pak Ari untuk siswa-siswi Pemalang merupakan teladan berharga.
Selain keteladanan di atas, Pak Ari juga punya cerita unik. Suatu hari, Pak Ari dan Bu Nana pergi ke pasar. Turun dari motor, Bu Nana mbatin dalam hati ketika dilihatkan cah gemblung (anak gila) yang telanjang di pasar. Akan tetapi, beliau tidak menindaklanjuti perasaannya dan pergi berbelanja seperti biasanya. Sementara Pak Ari tidak masuk ke pasar, beliau hanya menunggu.
Selesai belanja, Bu Nana kebingungan mencari Pak Ari. Setelah tanya sana-sini, Bu Nana mendapat informasi kalau Pak Ari tengah memandikan cah gemblung yang membuat sebagian orang takut. Pada saat orang menjauh, Pak Ari malah mendekat dengan ketulusannya. Bukan hanya dimandikan, juga dibelikan baju baru, dan makan. “Setelah kenyang, anak yang berumuran 11 tahun tersebut tenang. Ternyata anak tersebut bukan gila seperti pandangan masyarakat, tetapi karena tidak diperhatikan. “Dia bisu dan tuli,” ujar Pak Ari.
Anak malang tersebut rencananya mau diajak Pak Ari pulang, tapi karena rumahnya dekat dengan kampungnya Pak Ari, rencana tersebut batal.
Nah, dari cerita Pak Ari, kita belajar. Pak Ari yang Muslim-nya tak dari kecil (dulunya beliau Nasrani) memiliki ketulusan luar biasa. Dari Pak Ari kita belajar bahwa peduli orang lain tak harus menunggu kaya harta, iya kan? (Sukarni...modified by adm mayoga)| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




